Oct 21, 2015

Orang Tua Kok Plin Plan

parentingPada suatu malam saat libur sekolah seorang anak sedang menonton acara televisi. Dari stasiun satu ke stasiun lain dipindah-pindah karena masih diselingi tayangan iklan. Sampailah ke salah satu stasiun televisi yang memutar sebuah film. Kebetulan film bergenre action dan memang seharusnya untk orang yang sudah dewasa. Karena anaknya baru berumur sekitar 9 tahun, dan masih duduk di kelas 3 SD, spontan orang tuanya melarang untuk menonton.


“Nak, ayo pindah teve lain, itu untuk dewasa filmya. Kamu tuh masih anak kecil!”, kata si Ibu yang tidak jauh dari duduk anaknya. Lalu dipindah ke stasiun lain yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola.


Setelah beberapa saat, anaknya bilang ke ibunya :


“Ma, ambilkan air minum ma…aku haus”, rengek anaknya.


“Kamu kan sudah besar, masa ambil minum sendiri saja tidak bisa!”, ibunya setengah kesal atas permintaan si anak.


Ya itulah sedikit cerita yang sering sekali kita bisa lihat langsung. Bisa jadi pernah terjadi di keluarga kita. Dan saat terjadi menjadi hal sepele dianggapnya. Bisa jadi merasa tidak berpengaruh apa-apa untuk kehidupan anaknya atau hubungan antara anak dan orang tuanya.


Dalam waktu yang selisih tidak seberapa lama, bahkan hanya beberapa menit, hanya dalam percakapan berikutnya, terjadi ungkapan atau kalimat orang tua yang kontradiktif. Bahkan bermakna sangat nyata, berkebalikan. Munculnya sebuah ukuran yang berbalik namun untuk sesuatu yang sama hanya saja kondisi berbeda. Satu hal menyatakan anak tadi masih kecil, satu hal lain menyatakan anak tadi sudah besar.


Apa yang terjadi setelah itu?


Coba kita bayangkan dan rasakan, jika kita yang menjadi anak tersebut. Saat membuka chanel televisi dengan tayangan film action, disebut anak masih kecil, sebentar kemudian, selang beberapa detik bisa jadi dibilang sudah besar. Tentu saja akan merasa bahwa yang mengatakan (orang tua) plin plan atau hanya cari alasan untuk melarang. Mau menang sendiri karena tidak konsisten dalam menyampaikan. Bagaimana jika ini sering terjadi, maka akan terbentuk sebuah pengulangan (repetition) terhadap pemikiran anak tadi. Berulang kali merasa tidak yakin dengan apa yg diucapkan orang tua. Suatu saat orang tua memberikan nasehat yang lebih penting atau sesuatu yang serius, sedang yang difikirkan anak tersebut bahwa nasehat itu hanya sesuatu untuk mendapatkan pembenaran, menang sendiri, plin-plan, dll fikiran negatif lainnya kepada orang tua. Jika ini terjadi maka nasehat akan lewat begitu saja. Si anak mencari pembenaran kepada yang lain, karena merasa tidak mendapatkan dari orang tua.


Anak-anak lebih parah lagi bisa terjerumus pada hal teknik mendapatkan pembenaran atas semua aktivitas atau apa yg dilakukannya. Karena mencontoh dan memodel apa yang sering didapati dari orang tua langsung. Bukankah pengalaman guru yang sangat baik menanamkan memory? Hal ini bisa menciptakan model dalam fikiran anak yang tentunya merugikan dirinya maupun orang tua.


Memberikan parameter jelas untuk anak kita akan lebih arif dan lebih baik tentunya. Misalnya kita ganti pernyataan tersebut dengan :


“Nak, kamu kan baru berumur 9 tahun, itu film untuk dewasa 18 tahun ke atas, sehingga lebih baik acara lain yg pas”.


“Nak, kamu kan sudah kelas 3, jadi ambil minum sudah bisa sendiri kan ya?”


Karena parameter umur dan kelas dalam sekolahnya merupakan parameter yg dapat dicerna pembenarannya maka anak bisa membedakan dengan jelas. Simple, namun bisa mengundang masalah, jika kurang tepat. Semoga bermanfaat untuk anda.


Ditulis oleh Yant Subiyanto



Orang Tua Kok Plin Plan

No comments:

Post a Comment