Dec 18, 2015

Kebutuhan Sopir Angkot Dengan Tarif Baru

angkotSaya merupakan salah satu penumpang angkot setia di margonda raya, Depok. Jarak yang paling sering saya tempuh paling hanya 1km, dari kober/depan kosan menuju margo city. Jarak yang singkat, tapi kalau jalan kaki bisa keringetan, keserempet motor atau mobil karena trotoar sedang dibenahi, dan polusi udaranya lumayan bisa bikin sampai di tujuan bau asap, sempurna bau asap. Jadi atas beberapa alasan tersebut saya sering naik angkot.


Di banyak angkot yang saya tumpangi, terlebih setelah kenaikan BBM yang terakhir kali, banyak supir angkot yang menempel peraturan pemerintah mengenai tarif angkot, lengkap dengan tulisan tambahan jauh dekat Rp. 3000. Tapi, sayangnya tulisan itu seringkali tidak berarti.


Saya juga salah satu penumpang setia Bemo, jurusan manggarai-RSCM salemba. Rutenya lumayan jauh dan merupakan satu-satu nya alat transportasi bersama yang melewati rute ini. Barangkali pemerintah tidak mengeluarkan tarif khusus bemo jadi supir Bemonya dengan inisiatif sendiri menulis angka Rp 4.000 dengan cat merah, berharap tulisan itu bisa dibaca dan dipatuhi….


Tapi kenyataannya tidak begitu. Saya sering sekali melihat tulisan itu tidak berarti. Paling menyedihkan beberapa waktu yang lalu. Saya menumpangi Bemo dari st manggarai (dimana penumpangnya ngantri bgt karena rush hour) trus di terminal manggarai (yang jaraknya deket deket nanggung) turun seorang ibu-ibu dan cuma bayar seribu, iya seribu. Trus Supir Bemo malang itu cuma istighfar sambil mengusap wajahnya. Lalu, saya hanya bisa me-na-ngis. Saya salut sama kesabaran dan keikhlasan supir Bemonya, dia ga manggil balik si Ibu-ibu karena mungkin dia juga tau arti seribu dua ribu rupiah si Ibu itu, terlalu mahal untuk bayar ongkos Bemonya….


Waktu itu saya bingung, saya sedih, tapi nggak bisa analisa apa-apa. Cuma berdo’a semoga seribu nya supir Bemo itu menjadi berkah yang luar biasa…


Tapi kejadian seperti ini terus berulang. Maaf sebelumnya, saya tidak kaya raya, karena kalau kaya raya mungkin saya tidak perlu naik angkot apalagi Bemo, tapi saya cukup kaya untuk tidak mengurangi hak supir Bemo dan angkot-angkot itu.


Baru kejadian tadi siang, saya naik dan turun di tempat yang sama (sudah saya sebut di awal tulisan, margo-kober). Ada 3 orang perempuan se-usia saya, dari cara mereka berpakaian saya bisa tahu kalau mereka mampu (terlihat dari merk tas dan sepatu yang mereka pakai). Saat turun, satu orang bayar ongkos 7500 saya tahu persis karena saya berdiri di belakang nya si Mbak yang bayar. Trus begitu bayar Mbaknya buru-buru pergi, gabung bersama 2 temannya yang lain. Lalu, si Supir malang yang tua dan lelah (coba aja yang lain bisa liat muka si supir waktu manggilin Mbaknya (manggil Mbaknya sambil bilang, 9 ribu neng, kurang nih uangnya. Trus Mbak-mbak cantik dan pura-pura ga denger itu cuma diem, pura-pura ngerasa nggak di panggil)


Kalau saya kurang waras, mungkin saya udah dorong Mbak-mbaknya ke galian trotoar, tapi saya cukup waras, makanya milih nulis aja. Dan maaf, kadang-kadang ini juga kejadian sama temen saya sendiri, yang saya tahu, mereka mampu dan saat itu punya uang yang cukup untuk bayar 3.000 rupiah, cuma karena kebetulan ada gocengan, atau adanya 2ribuan dan sisa uang di dompet pecahan besar semua, yang sayang kalau di pecah cuma buat bayar ongkos angkot.


Sebelumnya saya mohon maaf kalau kita tidak sependapat, tapi, sebentar, coba izinkan saya menjelaskan sedikit lebih jelas.


Ongkos angkot itu sudah dikalkulasikan pemerintah, yang mungkin kita tidak mengerti perhitungannya. Intinya, pada akhirnya tarif angkot itu menjadi sekian (dimana dalam kasus ini harusnya 3.000, jauh dekat 3.000). Jadi ya, seharusnya suka tidak suka kita bayar seharga tarif., tidak bisa pakai alasan “kan deket banget, ga pantes kalau bayar 3.000”.


Jadi begini. Saya coba kasih contoh lain, unit cost atau perhitungan biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah tindakan di kedokteran gigi itu dihitung dari banyak komponen. dari biaya alat dan bahan yang habis pakai, atau biaya-biaya tidak langsung lain yang sifatnya bisa jadi investment atau biaya tetap per bulan lain (seperti biaya listrik, sewa gedung, bayar air, beli kursi gigi, alat-alat dan lain-lain). Nah, sama halnya sama si supir angkot. Ada biaya ganti oli, ganti ban, dan lain-lain yang saya nggak terlalu ngerti. Jadi, kita nggak bisa menilai “kan deket jadi wajar aja di bayar segitu”, itu sama aja kayak bayar dokter gigi lebih murah karena nambel gigi yang gak terlalu besar bolongnya, “wajar aja dibayar segitu, kan bolongnya ga gede gede amat”. Padahal, nggak bisa gitu, semua sudah ada perrhitungannya, mau lubangnya kecil atau besar, pasien pakai listrik, pakai alat-alat yang sifatnya investasi, nggak cuma bahan yang habis pakai kayak si bahan tambalan yang dipakai untuk nambel gigi yang nggak gede-gede amat itu.


Jadi, cobalah untuk mengerti tarif angkot yang kalau kita bayar penuh insyaAllah nggak akan bikin kita miskin. nggak usah berkoar koar suruh pemerintah untuk berantas kemiskiman, untuk perhatikan rakyat kecil kalau kita masih mencuri 500 rupiah mereka. Jangan menyerukan keadilan kalau diri kita sendiri saja tidak bisa adil…


Kita tidak bisa menawar tarif KRL untuk 30km pertama yg harganya 2rb itu, walau kita cuma naik satu atau 2 statiun which is ga sampai 30km, tapi kita ga bisa nawar karena sudah peraturannya begitu.


Kita ga pernah nawar segelas kopi atau apalah itu di gerai kopi di mall mall yang segelasnya bisa 40 ribu karena sudah ada tulisannya, dan bangga banget bisa nongkrong ngopi cantik disana, tapi sendirinya nggak malu bayar ongkos angkot yang 3ribu masih dikurang-kurangin padahal juga ada tulisannya.


Sudahlah, kita terlalu cerdas hanya untuk mengerti betapa mudahnya bayar ongkos secara penuh. Kita terlalu kaya hanya untuk berniat “saving” dengan mengurangi ongkos angkot kita, ga bakal kaya juga ampe 20 tahun naik angkot.


Jadi, sebelum kita teriak teriak berantas korupsi, nyuruh pemerintah memperhatikan rakyat kecil, menurunkan harga sembako, menegakkan keadilan, mari kita bayar ongkos angkot kita secara penuh, karena 500 rupiah yang kita ambil adalah sumber kehidupan mereka.


Ohya, yang lebih memilukan lagi ketika mereka tidak dibayar sesuai tarif mereka masih bisa bilang “Saya anggap itu sedekah saya, mungkin karena saya terlalu pelit untuk sengaja bersedekah”. Pilu nggak dengernya?


Walaupun tidak berlimpah, semoga berkah Pak.


Sumber tulisan: chakidila.tumblr.com



Kebutuhan Sopir Angkot Dengan Tarif Baru

No comments:

Post a Comment