Kelengkeng Pingpong berasal dari dataran Sungai Mekong, Vietnam. Kelengkeng jenis ini memang belum sepopuler kelengkeng lokal. Namun, mulai banyak yang membudidayakannya. Maklum, keuntungannya lumayan.
Kelengkeng pingpong memang agak beda dari kelengkeng biasa. Besar buahnya empat kali lipat kelengkeng lokal. Bijinya juga tentu lebih besar, tapi dagmg buahnya tebal dan beraroma wangi. Buah ini juga masih jarang mejeng di pasar kita. Sebab, memang belum banyak petani kita yang membudidayakan Kelengkeng Pingpong ini.
Kelengkeng Pingpong merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di tanah berketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl).
Umumnya, di Indonesia, Kelengkeng Pingpong menjadi buruan para hobiis. Salah seorang pembudidaya Kelengkeng Pingpong adalah Isto Suwarno. Awalnya, pada 1998, Isto mendapat sejumlah biji Kelengkeng Pingpong dari adiknya. la lantas menyebar biji-biji itu. Ternyata, tak susah membudidayakan kelengkeng jenis ini. Dari sini, budidaya kelengkeng milik Isto berkembang.
Isto lantas mencoba menawarkannya ke sejumlah kolega dan para pehobi tanaman. Tak dinyana, sambutannya antusias. Pada 2005, ia resmi menjual bibit kelengkeng di bawah bendera Telaga Nursery Prambanan. Isto mengaku,langsung kebanjiran order. Padahal, ia hanya menjadikan buah kelengkeng sebagai sampel bagi yang ingin membeli bibit.
Setiap bulan, Isto bisa menjual 7.500 bibit kelengkeng, baik dari biji ataupun okulasi. la menjual bibit biji ukuran 15 centimeter (cm) sampai 20 cm dengan harga Rp 20.000 per batang. Adapun bibit okulasi ukuran 60 cm dia lepas dengan harga Rp 40.000. “Saya juga melayani pembelian tanaman dalam pot mulai harga Rp 1,5 juta per pot sampai Rp 2,5 juta,” ujarnya.
Dalam sebulan, Isto bisa meraup penghasilan Rp 30 juta. Bisa lebih, jika ada pesanan bibit jumlah besar.
Permintaan bibit kelengkeng cukup tinggi lantaran tanaman ini mudah dibudidayakan, baik di lahan sempit atau di pot sekalipun, asal terkena sinar matahari. “Perawatannya mudah dan hamanya sedikit,” kata Isto. Tanaman ini bisa dibudidayakan dari biji, bibit, dan bibit okulasi.
Untuk menanam kelengkeng Pingpong, pertama-tama masukkan bibit ke pot atau lubang di tanah. Ukurannya harus sesuai besaran tanaman. Sebagai media tanam, campurkan tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Dalam setahun, sebaiknya beri tiga kali pupuk. Saat kemarau, setidaknya disiram air dua hari sekali. Dalam 1,5 tahun, pohon ini sudah berbuah.
Dianggap gila
Biji dari Semarang itu lalu disemai dalam karung yang dibentuk seperti polibag kecil dan dibenamkan dalam tanah. ‘Saat itu saya ditertawakan dan dianggap gila karena menanam lengkeng untuk bibit. Semua teman dan tetangga yakin tak ada yang mau membeli bibit lengkeng karena lama berbuah,’ kata Isto. Toh, Isto bersikukuh. Makanya setiap kali lengkeng di rumah Budi berbuah ia meminta kiriman bijinya. Benar saja baru 2 tahun ditanam, beberapa pohon mulai memamerkan bunga dan buah. Ia pun mulai memasarkan.
Isto membawa 20-50 bibit lengkeng di minibusnya dan menjajakan di tepi jalan dan alun-alun. Spanduk besar bertuliskan ‘Jual Lengkeng Berbuah Cepat’ dipasang di depan mobil. Apa lacur, tak ada seorang pun melirik. Pingpong juga dititipkan pada teman yang mengikuti pameran tanaman hias di Yogyakarta. Namun, ‘Titip 20, pulang bawa 20, mau nangis rasanya,’ kenang Isto.
Selama 6 tahun, sepanjang 1998-2004, tak 1 bibit pun berhasil dijual. Sementara pingpong yang disemai di lahan kosong seluas 2.000 m2 semakin besar. Karakter pingpong yang tumbuh meninggi dan nglancir membuat lahan itu seperti hutan lengkeng. ‘Setiap lihat halaman jadi miris. Kadang bertanya sendiri, mungkin saja saya sebenarnya gila seperti kata orang,’ ujar Isto.
Di saat hampir menyerah itulah, pada penghujung 2004, Isto nekat menghubungi koran lokal di Yogyakarta. Seorang jurnalis yang menanggapi telepon Isto bagai dewa penolong. Ia datang dan terpesona melihat lengkeng berbuah cepat. Keesokan harinya, tepat pada hari pertama 2005, sebuah tulisan tentang lengkeng ajaib yang mampu berbuah cepat dan rajin berbuah menghiasi halaman koran itu.
Paling dicari
Sejak itulah mukjizat terjadi dalam kehidupan Isto. Ia menjadi orang paling dicari di Prambanan. ‘Hari itu telepon di rumah terus berdering. Orang yang tak dikenal juga berdatangan. Mereka membeli bibit dan berguru cara menanam. Saya pun berhenti menjadi supir karena pendapatan dari bibit jauh lebih besar,’ katanya. Sepanjang 2005 tercatat 900 orang datang dan menelepon ke rumahnya.
Jumlah pembeli yang datang terus melonjak dari tahun ke tahun. Di 5 buku tebal catatan penjualannya tercatat 1.500 orang membeli pada 2006. Pada 2007 berlipat menjadi 3.000 orang dan tembus 10.000 orang pada 2008. Yang unik pembeli yang datang tepat pada kelipatan seribu mendapat doorprize berupa 3 bibit tergantung ukuran.
Dari perniagaan sepanjang 2008 itu Isto meraup omzet Rp700-juta-Rp750-juta. Itu dari penjualan pingpong sebanyak 20.000 bibit. Lima puluh persen di antaranya berupa bibit okulasi yang dibandrol Rp50.000/pohon. Sisanya bibit asal biji yang dipatok Rp20.000-Rp25.000 per pohon. Pembeli berasal dari berbagai kalangan: hobiis, pekebun, hingga Dinas Pertanian untuk program penghijauan.
Pantas kehidupan Isto pun berubah drastis. Dari hanya tinggal di rumah dinas yang catnya sudah memudar menjadi juragan kaya raya. Di halaman kebunnya kini terparkir Chevrolet Blazer, Suzuki Futura, dan Toyota Avanza. Semuanya baru. Keluarganya pun diboyong ke rumah mewah senilai Rp600-juta yang berdiri di Kaliurang, Yogyakarta.
Bungkus kado
Bisnis Isto berkembang cepat karena diuntungkan posisi kebun yang strategis. Kebunnya-dekat Prambanan-hanya berjarak 8 km dari Bandara Adisucipto, Yogyakarta. ‘Hanya 15 menit ke bandara, saya bisa kirim bibit ke semua bandara di seluruh Indonesia dalam waktu sehari. Saya jadi tidak tergantung pada ekspedisi antarkota,’ tuturnya. Menurut Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, lokasi strategis itulah yang jarang dimiliki penangkar lain di Nusantara yang umumnya di pelosok.
Pengalaman bekerja di bidang pariwisata pun membuat Isto berbeda dengan penangkar lain. Ia melayani pemesanan ritel dan partai ke seluruh Indonesia. Justru partai kecil 1-10 bibit ukuran 35-40 cm itulah yang kerap membawa berkah baginya. Bibit dikemas dalam kardus bekas termos jumbo lalu dibungkus kertas kado. Di dalamnya diselipkan cakram padat (CD) cara penanaman hingga perawatan-yang mencantumkan alamat dan telepon serta foto buah matang.
Di tangan pelanggan biasanya CD dipinjamkan ke teman dan kerabatnya. Dari sanalah pesanan dalam jumlah berlipat datang. Isto pun membangun mimpi dari biji-biji pingpong.
Pria Ini Jadi Jutawan Dari Bisnis Bibit Kelengkeng
No comments:
Post a Comment