Koran Shizuoka memberitakan seorang asal Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember yang menjadi juara pidato bahasa Jepang. Pidato tersebut diadakah khusus untuk para pendatang di Perfektur – Shizuoka, Jepang. Adalah Ahmad Zaini, sang juara yang saat ini sedang meniti karir di Negeri Sakura Jepang.
Membawakan pidato bertajuk Nihon Jin No Eigo atau English of Japanese People, Zaini mengulas tentang kesulitan orang Jepang dalam berbahasa Inggris. Meski menjadi salah satu negara maju di dunia, tidak banyak orang Jepang yang terbiasa dalam berbahasa Inggris. Kesulitan itu, menurutnya selain karena alfabet bahasa Jepang jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Juga disebabkan kecintaan warga Jepang terhadap bahasanya sendiri.
Pidatonya mengalahkan para ekspatriat lain yang berasal dari Tiongkok, Taiwan, Brazil, Myanmar dan Filipina. Sementara, juara kedua dan ketiga masing-masing diraih oleh peserta asal Tiongkok dan Taiwan.
Sesaat setelah menjuarai pidatonya, Jen pun menulis status di situs jejaring sosial facebook.
“Masuk koran indo aja belum pernah. Eeeh, kedapatan masuk koran Jepang. Untungnya bukan masalah kriminal.”
“Sebenarnya saya menang lomba pidato bukan karena saya pintar berbahasa Jepang. Tapi lebih karena saya mengambil poin-poin penting dalam sistem penilaian yang ditetapkan panitia,” tutur Zaini merendah sebagaimana dikutip dari Jawapos.com.
“Semua film dari Barat pun, ketika masuk Jepang juga di-dubbing (sulih suara, red). Bahkan berita dari luar negeri, termasuk pidato Presiden Obama, juga diganti dengan suara dalam bahasa Jepang,” tutur putra pasangan Hasbullah dan Siti Munawaroh ini.
Berikut ini cuplikan video lengkap pidato Jen dalam bahasa Jepang sebagaimana diambil dari laman facebook pribadinya.
Sejak pertama kali tiba dan bekerja di Jepang pada awal 2016, Zaini memang terus mengasah kemampuannya berbahasa Jepang dengan mengikuti kursus setiap hari minggu. Ia mengikuti kursus bersama para ekspatriat dari negara-negara lain di Shizuoka.
Sebelumnya, Zaini mulai belajar bahasa Jepang saat awal kuliah. “Sejak kecil, saya memang ingin sekali ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat. Karena saya dari dulu suka bahasa Inggris,” tutur alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Jember ini.
Perjalanan nasib keinginannya untuk merantau beralih ke Jepang. Keinginan itu timbul karena desakan kondisi ekonomi yang sedang melilit keluarganya. Sejak awal kuliah, ia mulai berpikir untuk membantu beban keluarganya yang saat itu sedang terlilit utang sebesar Rp 150 juta.
Sang ayah selain sebagai petani, juga membuka toko kelontong yang menjual berbagai keperluan rumah tangga. Sedangkan sang ibu adalah ibu rumah tangga biasa. Utang bank itu digunakan sebagai modal bagi orang tuanya membuka toko dan menyewa rumah. Hasil keuntungan dari toko kelontong itu, menurut Zaini, hanya cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Keluarga Zaini juga tidak memiliki rumah alias masih mengontrak. “Saya juga ingin menikah tanpa membebani keluarga. Karena sudah bersyukur bisa dikuliahkan,” jelas pria kelahiran 11 Januari 1990 ini.
Di tengah kegalaun itu, suatu hari, saat masih kuliah di semester tiga, Zaini membaca brosur tentang seminar yang berisi peluang bekerja di Jepang. Dengan membayar tiket seminar seharga Rp 15 ribu, Zaini mendapatkan banyak informasi yang memotivasi dirinya untuk bercita-cita kerja di Jepang. Selain keberangkatannya gratis dan bisa sambil berwisata, kerja di Negeri Sakura dijanjikan bayaran minimal Rp 15 juta per bulan. “Tapi karena saat itu saya masih pertengahan kuliah, saya pupus dulu rencana itu. Akhirnya sembari kuliah, saya juga mengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus di Kaliwates,” tutur pria yang semasa kuliah juga mondok di Pondok Pesantren Darussalam, Jember Lor, Patrang ini.
Memasuki tahun ketiga kuliahnya, kebimbangan terus menyeruak dalam hati Zaini. Ia mulai berhitung, jika selepas kuliah hanya bekerja di Jember, maka gaji yang ia peroleh maksimal hanya sekitar Rp 3 juta. Kisaran penghasilan itu menurutnya akan sulit ia gunakan untuk mencicil utang keluarga, menabung biaya nikah dan membeli rumah baru.
Akhirnya ia kembali mencari informasi kursus bahasa dan bekerja di Jepang. “Saya terus memikirkan utang Abah di bank. Abah juga sudah tidak muda lagi,” tutur bungsu dari dua bersaudara ini.
Zaini menyebut, kondisinya itu sebagai the power of kepepet. Di tengah himpitan ekonomi dan kegalauan itulah, ia menemukan informasi tentang program magang kerja ke Jepang yang dibuat oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Selain bisa berangkat dan mengikuti pelatihan kerja gratis, program tersebut juga menjanjikan gaji yang menggiurkan. Semua akomodasi dibiayai oleh pemerintah Indonesia. Setelah lulus magang selama tiga tahun di Jepang, ia bisa mendapatkan bonus dan pesangon sebesar 900 ribu Yen yang jika dikurskan menjadi sekitar Rp 100 juta.
Selain itu, gaji per bulannya selama magang mencapai Rp 10 juta, dan jika ditambah lembur 3 jam per hari, bisa mencapai Rp 17 juta. “Usai magang nanti, kita juga bisa terbuka peluang untuk bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia,” jelas lajang asal Jalan KH Abdul Rahman, RT 003/RW 005, Desa/Kecamatan Tempurejo ini.
Namun untuk mendapatkan kerja magang menggiurkan itu, persyaratan yang harus dilalui tidaklah mudah. Zaini harus melalui serangkaian tes, termasuk tes kesehatan fisik, bahasa Jepang, psikotes dan Matematika. Mereka yang mendaftar melalui situs Kemenakertrans mencapai 1.200 orang, dari berbagai kota di Indonesia. Padahal, hanya sekitar 500 orang yang diambil.
Dari Jember, hanya Zaini seorang yang mendaftar. “Saya masih semester enam dan masih disibukkan dengan tugas akhir. Jadi konsentrasi saya terpecah,” tutur Zaini.
Saat itu, belum ada kursus bahasa Jepang di Jember. Sehingga Zaini belajar bahasa Jepang secara otodidak melalui buku dan di pondok pesantren. Saat mengikuti tes di Bekas, Zaini dinyatakan lulus tes fisik, namun gagal di tes bahasa Jepang. Beruntung, panitia memberikan kesempatan tes ulang dua bulan kemudian. “Saya akhirnya pergi ke Solo untuk mengikuti kursus bahasa Jepang selama dua bulan. Alhamdulillah, akhirnya lulus juga,” cerita Zaini.
Namun dilema kembali mucul, karena saat itu Zaini belum lulus kuliah. Padahal, menjadi sarjana adalah tekad awalnya, sesuai harapan orang tua. Di sisi lain, kesempatan kerja magang akan gugur jika dia terlambat sampai ke Jepang. “Entah kenapa Allah memberikan saya kemudahan. Meski pikiran terpecah, saya masih bisa fokus untuk mengurus proses dan syarat pergi ke Jepang ini,” aku Zaini.
Sembari mengurus proses keberangkatan, Zaini menyelesaikan skripsi pada semester tujuh. Agar fokus, Zaini akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai guru les bahasa Inggris yang sudah beberapa tahun ia jalani. Zaini juga bersyukur, karena para dosennya memberikan beberapa kemudahan hingga ia bias tuntas menyelesaikan skripsi.
“Alhamdulillah, saya akhirnya lulus kuliah dengan predikat cum laude. Tapi saya hanya bisa melihat dari jauh, teman-teman saya dandan cantik dan tampan saat wisuda, karena pada saat yang sama saya harus mengikuti pelatihan tahap dua selama 2 bulan. Ijazah akhirnya diambilkan kakak,” tutur pria yang lulus kuliah pertengahan tahun 2015 ini.
Keberangkatan Zaini ke Jepang juga sekaligus pengalaman pertamanya naik pesawat. ”Pertama kali saya naik pesawat, ternyata luar biasa. Yang saya rasakan ketika naik pesawat, serasa yang jadi kenyataan,” aku Zaini dengan polos.
Saat awal tiba di Jepang, ia masih harus mengikuti pelatihan budaya selama satu bulan di Tokyo. Bersama rekan-rekannya, Zaini dibiasakan dengan budaya Jepang yang berbeda dengan Indonesia, mulai dari bahasa hingga kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Zaini akhirnya ditempatkan di perusahaan bernama Horiguchi Tekkosho Ltd, yang bergerak di bidang industri mesin.
Perusahaan ini cukup dikenal karena memproduksi beragam spare part untuk mobil dan motor Jepang yang juga beredar di Indonesia. “Di perfektur Shizuoka, saya tinggal berlima di kontrakan milik perusahaan. Teman-teman saya berasal dari Bandung, Bogor, Medan dan Yogyakarta,” ujar Zaini.
Tak hanya bekerja, Zaini juga menyerap banyak nilai-nilai positif dari masyarakat Jepang. Selain sangat mencintai tradisi bangsanya sendiri, masyarakat Jepang di mata Zaini sangat suka kerja keras dan jujur. Ia mengaku tidak pernah melihat pemberitaan tentang debat kusir yang tidak perlu atau kasus korupsi pejabat.
Setiap pergi kerja, Zaini juga sering tidak mengunci pintu rumah atau meletakkan barang berharga sembarangan. Dan sejauh ini, ia belum pernah mengalami kemalingan. Namun di sisi lain, sebagai pemuda yang dibesarkan di kultur santri, Zaini menilai masyarakat Jepang sangat sekuler. Sehingga kasus bunuh diri cukup lazim terjadi. “Di sini seks bebas juga lumrah. Beli perempuan mungkin sudah seperti beli minuman,” cerita Zaini.
Selama lebih dari setahun tinggal di Jepang, Zaini bersyukur bisa membantu perekonomian keluarganya. Ia rutin mengirim uang untuk keluarganya di Tempurejo. “Alhamdulillah, dari sini utang bank bisa dicicil. Jadi sekarang tinggal sedikit saja. Keluarga kami juga akhirnya punya rumah dan toko sendiri sekarang,” pungkas Zaini.
Bagaimana, apakah kisah ini dapat menyemangati anda dalam meraih mimpi? Jadilah Ahmad Zaini dalam bidang lain yang dapat mengharumkan nama Indonesia.
Pemuda Asal Jember Ini Juarai Pidato Bahasa Jepang
No comments:
Post a Comment